TPS (Think-Pair-Share) atau
(Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang
untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling
membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh
penghargaan kooperaif, dari pada penghargaan individual. Metode TPS mampu
mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam
setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberi
waktu kepada para siswa untuk berfikir dan merespons serta saling membantu yang
lain.
Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan
keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa
lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di
depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa
percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam
kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif
yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak
lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru
siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student
oriented).
Langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam Think Pair Share (TPS) adalah:
Þ
Tahap
1: Think (berfikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yan berhubungan dengan
pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut
secara mandiri untuk beberapa saat.
Þ Tahap 2: Pairing
(berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk
mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi selama
periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika pertanyaan telah diajukan
atau penyampaian ide bersama jika isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya
guru mengijinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Untuk lebih jelasnya disini akan dijelaskan
langkah-langkah pada tahap ke-2 ini adalah:
1. Langkah 1 : Bekerja berpasangan. Tim atau
kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan. Satu siswa di dalam pasangan itu
mengerjakan lembar kegiatan atau masalah, sementara siswa yang lain membantu
atau melatih.
2. Langkah 2 : Pelatih
mengecek. Siswa yang menjadi pelatih mengecek pekerjaan partnernya. Apabila
pelatih dan partnernya itu tidak sependapat terhadap suatu jawaban atau ide,
mereka boleh meminta petunjuk dari pasangan lain.
3. Langkah 3 : Pelatih
memuji. Apabila pelatih dan partner sependapat, pelatih memberikan pujian.
4. Langkah 4 : Bertukar
peran. Seluruh partner bertukar peran dan mengulangi langkah 1-3 sampai
semuanya setuju dangan jawaban yang dikerjakan.
Þ Tahap 3: Sharing
(berbagi). Pada tahp akhir, guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk
berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang telah
mereka bicarakan. Langkah ini efektif jika guru bekeliling kelas dari pasangan
yang satu kepasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari
pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melaporkan.
Kelebihan
metode Think Pair Share (TPS) adalah:
1.
Memungkinkan siswa untuk
merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan
karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh
guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2.
Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena
bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan
dalam memecahkan masalah.
3.
Siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok
hanya terdiri dari 2 orang.
4.
Siswa memperoleh
kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa
sehingga ide yang ada menyebar.
5.
Memungkinkan guru
untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.
Kelemahan metode
Think
Pair Share (TPS) adalah:
1.
Membutuhkan koordinasi
secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
2.
Membutuhkan perhatian
khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3.
Peralihan dari seluruh kelas
ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga.
4.
Menyusun bahan ajar setiap
pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak.